Sabtu, 02 November 2013

Aset atau pejet?


Ilustrasi. Foto oleh Banten Today.
Sebagai korporasi tentunya beda dengan tengkulak. Karyawan adalah aset dimana perkembangannya wajib ditingkatkan untuk produktifitas perusahaan. Ini contoh sebuah perusahaan sehat. Nah, kalau kita bekerja dengan perusahaan-rentenir akan berbanding terbalik. 

Tenaga-energi kita diperas dan disedot, digenjot produktif sementara hak dasar kewajban dan jaminan asuransi tak pernah diindahkan. Jangan kata ada kesempatan untuk presentasi program dan kelas yoga, cuti hamil yang notabene adalah kehendak Tuhan dan semesta saja kadang tak diindahkan. Menganggu produktifitas perusahaaan katanya. Coret. Rekrut SDM baru. Mentalitas perusahaan seperti ini hanya berlaku di jaman kolonial. 

Coba bandingkan dengan yang satu INI.

Tentang anak dan psikopop


Illustrasi foto Eductory.
Pada konteks tertentu  bisa jadi apa yang diceritakan dalam tulisan tersebut memang benar adanya. Orangtua sebagai persona yang telah menjalani proses kehidupan dahulu ketimbang anak usia sekolah biasanya menjadikan referensi personal ketika mereka berada dalam usia yang sama. 

Apa yang telah dialami merupakan refleksi dari pengalaman masa lalu. Berkas memori yang tersimpan dialam bawah sadar ini ditarik kembali untuk disesuaikan menurut idealisasi para individu dewasa seperti orang tua tersebut. Dan yang terjadi adalah proses dogma ideal yang disistematiskan terhadap anak kita yang masih dalam proses berkembang. 

Dimana dalam usia 0-5 tahun atau usia produktif belajar adalah masa-masa dimana anak sebagai individu menghadapi jungkirbaliknya lingkungan ekternal diluar hubungan orangtua-anak. Respsinya bisa beragam. Dalam masa-masa ajaib tersebut anak mempunyai dunia yang liyan ketimbang orang tua-dewasa yang sudah mengalami faset yang berlapis. 

Hubungan anak-orangtua dalam masyarakat adalah berlaku vertikal. Dalam pengertian ini saya selalu melihat bahwa anak yang baik adalah anak yang berbakti terhadap apa yang dikatakan dan diperintah oleh ayah-ibu mereka. Padahal andai saja idealnya peran hak-dan-kewajiban diberlakukan setara mungkin hasilnya akan berbeda. 

Orangtua secara kodrati absolut adalah orang yang melahirkan dan secara sosial diposisikan mempunyai tanggungjawab terhadap anaknya. Dalam pengertian hubungan hak-kewajiban ini anak perlu untuk diperlakukan 'setara' menurut pengertian tersebut. Perlakukanlah anak sebagai sahabat, yang mempunyai dunia sendiri, imajinasi yang ajaib, fantasi diluar kotak yang orang dewasa pun belum tentu sanggup memahami meski mereka mendapat strata pendidikan barat sekalipun yang sistematis dan rasional. 

Coba bayangkan jika tetiba anak TK 0 besar bilang sama bundanya, "Mimi, aku mau ganti nama menjadi Ninita dan boneka itu panggil saja Cicipanda." See, how brilliant they are! Kecerdasan alamiah seperti imajinasi tersebut adalah anugerah semesta bagi siapapun keluarga yang memilikinya. Patut disyukuri. Anak bukanlah investasi berjangka dimana pada suatu masa di depan deposit itu harus disesuaikan dan didapat menurut kuantitas yang telah diasuransikan kepadanya.  

Sekolah adalah idealnya menjadi tempat waktu luang bagi anak untuk membentuk dunianya. Bukan pranata yang rigid dengan tengat-target kuantifikasi. Sebab, manusia adalah mahluk yang berkembang, mahluk yang bermain-main, seperti halnya sekolah yang harus diposisikan sebagai ruang untuk bersenang-senang dengan sebaya, membahas matematika dengan jenaka, belajar berbahasa internasional dengan canda tawa.  

Rewards and punishment juga harus dibangun dengan positif. Bagi yang tidak mengerjakan PR bisa diproyeksikan dengan pembacaan karya puisi tambahan, bagi yang memiliki kuku panjang dapat disublimasikan dengan hukuman berupa penulisan perkalian dengan mengunakan bahasa tanpa khawatir dijeplak pengaris Pak Guru berkumis tebal itu, bukan ditulis dengan angka. Sisipi keseimbangan motorik dengan olah rasa. Angka dan tulisan. 

Anak tetaplah anak dengan dunianya. Sebagaimana halnya orang dewasa yang mengalami fluktuasi perkembangan. Sabar, santai, dan senyumlah selalu untuk mendampingi mereka. Iya, hadapkanlah anak pada dunia yang menyenangkan, penuhi harinya dengan senyum. 

Artikel terkait mengenai ini : Mengapa anak TK tidak boleh diajarkan Calistung.

Seniman sesungguhnya

Maria Magdalena Rubinem foto dokumentasi Tribun News.
Selebritas dan seniman, celebrity dan artist. Dua kata ini seakan dipraktikan mengandung pengertian sama antara satu dengan lainnya. Saya memaknai kata pertama mengacu pada individu yang menekuni peran keterampilannya yang dipenuhi dengan pernak-pernik duniawi, tendensius glamor. Kesenian sebagai konsumsi semata. 

Sedangkan padanan sinonim seniman atau artist dalam serapan asal bahasanya mengandung pengertian pada lelaku seorang individu dalam menjalani proses berkesenian. Tendensius total pada harfiah 'seni untuk seni'. Kesenian untuk ekspresi budaya. Apresiasi material mungkin menjadi prioritas kesekian ketimbang kualitas berkesenian itu tersendiri. 

Melalui artikel ini, ada kisah Mbah Rubinem di hari senjanya memberikan pelajaran hidup sederhana yang bersahaja dan tak lekang menyerah dihantam prahara waktu.

Pearl Jam Stick Man


Pearl Jam photo by News Revolt TV.
Pada awalnya, visualisasi kadangkala hanya menjadi wilayah sekunder yang biasanya dikesampingkan para musisi skena musik lokal. Berbeda dengan era tersebut, kini,  pada perkembangan termutakhirnya, ranah elemen visual mendapat porsi yang signifikan dan perhatian serius. Geliat perkembangan positif tersebut dapat dibaca melalui diskusi dan bengkelkerja beserta panduan edukasi teknis secara langsung yang mulai menjalar di komunitas musik lokal tanah air. 

Dari komunitas musik lokal pun akhirnya lahir seniman yang tumbuh kembang dengan posisi ganda sebagai seniman visual dan musisi sekaligus. Dengan peranan tersebut para pengapresiasi karya dapat menikmati tiga keuntungan sekaligus, pertama menikmati kualitas pesan auditif yang terekam, kedua dapat mendalami serta mempelajari makna syair yang biasanya ada dalam catatan sebuah rilisan album musisi tersebut, ketiga dalam menyerap sensasi goresan visual yang dihasilkan langsung dari satu sumber yang sama.  

Stick Man logo at Chemical Intercourse


Bakso Malang Parto murah-meriah-muntah!

Bakso Malang Parto, foto oleh Brokuliner.
Saya emang hobi melahap makanan kuliner, terutama cemilan dengan rasa pedas dan nyes. Beberapa menu favorit lokal saya adalah bakso. Iya, yang bulet itu loh. Nah, Parto salah satunya. Usaha kaki lima yang sudah diritis sejak delapan puluhan tersebut dilakukannya seorang diri. Dengan maksud mengadu nasib di kota-kota impian Parto akhirnya mendarat di Bandung dan mendirikan usaha yang digagas berdasarkan identitas kota asalnya. Bakso Malang Parto. 

Parto mengaku usahanya berjalan dan bertahan hingga sekarang karena beberapa hal. Pertama, trial and error, sejak pertama kali membuat usaha ini Parto sama sekali belum menguasai ilmu dapur sesungguhnya tentang kaidah berbakso yang baik dan benar. Hehe. Seiring waktu rahasia dapur dan ritual pengolahan pun dikuasai. Rasa bakso, siomay, olahan 'keringan', dan racikan bumbu Parto menjadi trademark yang khas dan kuat di lidah penggemarnya. 

Kalau Anda lagi santai keunggulan rasa Bakso Malang Parto bisa Anda jajal. Lidah saya sih untuk urusan ini biasanya maknyos seperti Om Gondan Winarno. Eh, Om Bondan maksudnya. Huhu. Selain bakso, Parto pria lajang ini akan sigap segera menyajikan segelas Teh Cap Dua Tang ala seduhan Parto di periuk ajaib sepuhnya dari sore hingga tengah malam menjelang persilangan hari. Meski penyajian alakadarnya tapi urusan kebersihan Parto cukup resik dan telaten. Nah, yang tak kalah penting, untuk urusan harga, bagi Anda yang berkantong cekak seperti saya masih bisa mendapatkan porsi full seharga Rp. 5000,- s/d 12.000,-! 

Nah, lho! Kreyep-kreyep nih lidah!

Bakso Malang Parto sekarang pindah ke Cihampelas, beberapa meter dibawah Aston Tropicana - Cihampelas.

The last kampong standing



Amongst all Government's massive development programs that have to think about is environment ecology or its green sustainibility amidst its citizens rights to staying in their natural inhabitants in other side. Government has clearer minds to wisely enough of not filling on all the corners of the country side with concrete-jungles. An ideal future's living area has to have a warmth identities that mostly Kampongnese had, the green climates, and ease with traffic jams but easily to gaining accesses of the city's infrastructures and its civilized modernity. 

Now playing Iwan Fals's Ujung aspal pondok gede. 




Punk and forever youth


3 decades more to come with Kevin and legendary 7 Seconds
A positives way of path when living in dominated drug-abused environment. The true SxE'ers alternative subculture devotees abstain from consuming alcohol-related beverages, smoking, and promiscuous sex both in philosophy and constant-praxis thoroughly. 

Had been practised this randomly and non-strict method in late 98-early-2K's when I was in a so-called HC/Punk band. Not even eaten any kind of meats, no burning cigarette, and no random lover. Ha! But now.... those ladies are the most attempting and been heavenly-angels whence too appealing to let 'em go :))

You can read what punk nowadays based on this reports : The New Face of Punk.

Merrier grin after hellshow a-side Metallica's IndoTour


Seringai live at Hammersonic 
Hosted a grand metal show like this one is kinda frustating yet exciting more than regular base event despite attended with 40.000 blackening-tees-metalheads. If Arian had a large ammount of puking to be their opening act then I must be have a large peeing and ask a special toilets right behind the backstage on a riders. Back in 1992-3 I had familiar memories with Independent day stages or TVRI's Album Minggu Kita's program and it's obvious if my parents won't allowed 5th grade elementary school to go to hell-large-masses metal show! And now 2013? Damn! I had missed two of the mighty Metallica's Indonesia event. Now I should expected miracles if they will hit strike at a final-last-show once again counted twenty years from now. It means a 70's grandpa's Metallica. Hiks! 

Jumat, 01 November 2013

Mom and dad went to a show drop me off at Grampa Joe's, and now my home going for sale, I wanna be alone

Kurt Donald Cobain photo by GuardianLV

Regarded as a worlds meteoric-phenomenon in history of rock Cobain has left many mementos to everyone, band, family, fans, the industry. I can't even imagine how'd frustratedly he was beyond these flashing glimpses and suddenly-cursed of being pop culture icon of the generations. Half million of dollars aren't worth as many of his enormous legacy had until this moment. Whether any of his publicist aware of what's aim of the family that Kurt's had been abandoned to sale the property, foremost gem history, just in case they have cope any troubled nor financial crisis. Frances should meets both her grandmas and her aunty jointly Love if possible. Happy family time to revisits random bands scrawled wall paintings. 

Napalm Girl

Napalm Girl by Nick Ut/AP
There's huge gap between whats Burnett's had shot with the iconic Ut's Kim Phuc when she hurriedly hustled to towards him in Trang Bang, during Vietnam war. The captured image subsequently transcend politics and history and become emblematic of the horrors of war visited on the innocent.

Phuc now established a foundation dedicated for trauma of war while Ut and Burnett still active-living-legend in the world of photojournalism nowadays. The Napalm Girl stories of thus tells us of how precious and decisive the flashing-times were, both in film cameras nor digital age. Burnett articles below has vividly compares what the gap means. 

Napalm attact at Trang Bang David Burnett/Contact Press Images
MORE IMAGES : Here and David's statements.

So, whats the probs?


Photo by Romeo Ranoco/Reuters.
Protest is embodiment part of democracy. But the ways we are channeling our voices must have a productive ways rather complaining with livid turmoil veins and blockage the vital streets where people do has their own rights in equal living. 

Several days before I've had watched a same typical contest broadcasted live in national television. But differently with this controversial beauty pageant they had a versus forms as usual contests that had hosted outside an to-be-claimed-majority-monotheist based country. 

In my personal opinions, this is a productive ways to shows up any disagreements with particular contests that ever exists. In subsequently anyone can modify the beauty contest that suits their cultures and their own society beliefs verses. Implicitly it shows a pride of sovereignity as well as an cultural acts must be fought with egalitarian battles.  

Shutting downs regular contests that against group or sectarians beliefs amongst society will brings farther the society sinks into collateral damage of democracy itself. Indonesia's will be backwards to the previous decades when ruled by despots whose forcibly imposing their political will. 

Ah, semakin padat karya band satu ini

Foto oleh Jurnallica

Hmm, asik nih, semakin banyak buku yang hadir dari ranah skena musik lokal maka akan semakin besar tingkat kemungkinan kemelekliterasian dan akan secara tidak langsung menjadi transformasi positif. Jujur, untuk wilayah kreatif penulisan di ranah musik indie atau so-called bawah tanah dan bahkan arus utama memang belum menjadi konsumsi bahkan produksi wajib. Setidaknya ini yang saya amati dari lingkungan personal. Bukan berarti jelek akan tetapi saya melihat bahwasanya fokus utama para pegiat seni hanya terporsir pada hal teknis semata dan cenderung alfa bahkan mengenyampingkan wilayah krusial tekstual lainnya diluar progresi nada, semisal penulisan kreatif.  

Setelah rilisan karya keluar ke khalayak maka pengarang memang mati karena harfiah dan definisi teknis menjadi pengapresiasi karya tersebut.  Dus, karena itu teks adalah wilayah tafsir yang 'semaugue' maka diperlukan pengembangan penulisan. Ini dapat menjadi menu andalan penarik selera mengaet pengapresiasi pasar musik. Konten seperti 'catatan dalam' tentang latar pemikiran sebuah syair, prosa, puisi, dan lirik pada umumnya membutuhkan semacam tagar refleksi personal dari si pelaku seni tersebut untuk menyeret audience-nya lebih menyelami karya. 

Saya mendengar PS era rintisan awal meski tidak mengikuti secara intens perjalanan karya mereka. Namun satu waktu akhirnya saya menemukan mereka kembali di album anyarnya. Edan! Menurut saya album itu adalah salah satu thesis untuk massa PS tentang semakin matangnya karir bermusik ditengah hantu kontraproduktif bayang-bayang kebesaran dan karisma para personilnya, termasuk vokalis lama. Karya mereka nyata menjawab metamorfosis musikalitas PS dan refleksi komunalnya dalam sebuah karya.  

Nah, diluar karya para musisi dan pegiat kesenian pada umumnya. Penulisan biografi, jurnal, atau catatan tektual hanya menjadi konsumsi sebagian golongan saja. Untuk karya macam biografi seperti ini saya belum menemukan lagi paska My self : scumbag - Beyond life and death-nya Kimung yang cukup produktif mendokumentasikan plus mengedukasi komunitasnya dengan cara literer.  

Adakah rilisan lainnya setelah labirin perjalan Pure Saturday? Semoga karya diatas menjadi pelatuk. Meminjam frasa Pram bahwa menulis ada esensi dari keber-ADA-an seseorang ditengah masyarat dan lintasan sejarah, maka membukukan memoar-memoar zaman tersebut akan menjadi nilai masa depan baik secara personal maupun yang lainnya. 

"Subsequently trancends becoming human and being content."

Mengapresiasi kegilaan Discus


Sempat berpikir bagaimana caranya menyatukan elemen akustik yang terdiri dari gabungan harpa, gitar, atau bahkan kecapi plus perkusi tradisional, dan sebagainya. Rasanya itu hanya bualan saja. Dan satu waktu ketika bertandang ke kantor Republik of Entertain di bilangan Pajajaran dan membaca koleksi buku Wawan Juanda seraya membuka file komputer dan mendengar puluhan musisi World Music saya menemukan Discus diantara nama Earth Music, Karunesh, Diab, Kuaetnika, Samba Sunda, Putumayo, dan lainnya. 

Impresi pertama adalah, "Wah unik nih, ragam nada naik turun, tinggi-rendah. Gimana mainnya yah." Sensasi saya dibawa hanyut dalam pola permainan Iwan cs tersebut. "Ini band kapan main disini yah, polarisasi instrumen, dan lainnya...hmmm...siapa pula yang mau mengundang kegilaan musikalisasi mereka. Sama penasarannya dengan melihat penampilan langsung Kekal yang notabene malah besar diantero komunitas progresif musik barat." 

Paska era 2002-2005 ketika menjadi commisioned-photographer untuk mereka dan masih sering ngelayap disana [terakhir ikut Braga Fest dan rooftop party and world music discussion nightversi mereka di Sabuga dengan Samba Sunda sebagai penampil cum pemateri] akhirnya saya sempat melihat penampilan Iwan Hasan berkolaborasi dengan saudarinya, seniman harpa nasional. Baru ngeuh ternyata ada ikatan darah dan seni yang kuat dalam keluarga mereka. 

Iri melihat kekompakan mereka diatas pentas yang sanggup berdialog dan mengomunikasikan pesan secara cair. Ngak ada grasak-grusukan. Santai pun cerdas. Berkelas. Itu mungkin kali pertama sampai saat ini melihat mereka setelah Kekal gagal saya hadiri di circa tahun-tahun itu. Dua musisi ini tak pernah saya lihat lagi unjuk-pesan lewat musik mereka di Bandung.  

Well, footage live ini mungkin dapat mengambarkan seperti apa keganasan progresi yang mereka tawarkan diatas pentas. Kalau kata Pra Budhi Darma : Olah rasa, olah raga, olah jiwa. 

Selamat pagi, selamat mengapresiasi. 

Mafia hukum dan LockFest



Lagu yang cukup eksplisit dan bakal abadi menjadi anthem yang layak dinyanyikan secara koor energi penuh. Rasanya seperti mendengar Bongkar-nya Fals era lalu. Mafia hukum adalah resonansi karya perlawanan kaum muda dari penjuru Bali terhadap praktek kolutif yang menular dalam penegakan keadilan dalam masyarakat oleh para makelar perkara.  

Mafia Hukum juga termaktub dalam kompilasi "Frekuensi Perangkap Tikus" bersama para musisi lainnya yang mempunyai pendengar antusias di akar rumpun mereka masing-masing. Kumpulan karya yang juga diinisiasi bersama Indonesia Corruption Watch tersebut adalah kontribusi nyata musisi untuk keluar dari zona kemapanan pentas dan mulai mengadvokasi massa dengan pesan-pesan riil di masyarakat.  

Satu sisi, dokumentasi Lockstock Fest ini menyisakan kisah memilukan untuk sekedar dinarasikan namun peristiwa nahas paska AACC senantiasa menjadi pengingat bahwasanya animo skena musik Indonesia tak menandakan kematian sama sekali. Esa hilang, seribu semangat mengulang. 

Terimakasih Navicula yang terus mengasak dawai dan tetap mengaung lebih keras atas nama musik di LockFest tersebut. 

Garut kota Illuminati?

Foto oleh http://bit.ly/1dyCYX5

Garut yang saya kenal adalah merupakan domain pesantren dan kebudayaan lokal bersemayam. Banyak cendikia muslim yang lahir dari pondokan-pondokan kota ini, kita pun tentu mengenal kekhasan Domba Garut yang notabene origin Kota Dodol. But, illuminati? Garut sebagai salah satu titik peradaban dunia di Nusantara? Semakin menarik untuk diapresiasi karya-karya liyan yang tak lazim diantero hegemoni ideolog barat di arena pengetahuan dan peradaban dunia. 

Karya legendaris Des Santos pun sampai sekarang menjadi polemik dan akan menjadi pencerahan jika diapresiasi cum dikaji lebih dalam. Dari ranah lokal nampaknya karya Akang Ahmad ini adalah tesis dari kelanjutan kajian-kajian Timur yang berkelindan satu dengan lainnya. Dengan cakrawala pemikiran yang tentunya sayang apabila dilewatkan begitu saja dan Masyarakat-Indonesia-Pembelajar hanya sekedar menjadi makmum narasi sang pemenang semata. Wilujeng, Kang.

Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi, Jilid I, Cetakan 1, Tahun 1959.

Foto-foto oleh A. Okhi Irawan
Buku satu ini takkan pernah berhenti menjadi perbincangan, baik secara intelektual maupun sisi ekonomis. Bagi para pencari falsafati kebenaran tentang bagaimana sejarah Republik ini berdiri lewat bangunan aksi-dan-wacana para pendiri bangsa, buku ini sangat layak sampai kapanpun. Buku ini seperti mendefinisikan semangat jaman Indonesia persilangan abad 20-21. Penuh dengan kandungan pesan yang membakar nasionalisme, menumbuhkan kolektivisme, keadilan, religiusitas, dan peranakan lusinan tafsir yang mungkin akan mengemuka. 

 Catatan Sukarno dalam Dibawah Bendera Revolusi ini adalah sejarah hidup tentang bagaimana sikap beliau sebagai Pemimpin Besar Revolusi ditengah gempuran infiltrasi separasi fisik dan laten yang dilancarkan sekutu adikuasa barat. Di dunia ini mungkin hanya Sukarno yang punya lebih dari sekedar nyali guna membuat poros politik tanpa blok, mengaplikasikan politik tanpa jutaan darah membanjiri kalam sejarah. Tanpa pula ideologi harus tergadai agenda kapitalisme. Sampai titik penghabisan.





Sarinah


Semua pendengar Sukarno pasti mengetahui bagaimana karisma Presiden Pertama Indonesia ini di mimbar-mimbar politik, panggung-panggung diplomasi, dan rentetan pergulatan era revolusi fisik menuju nation bernama Indonesia. Pun, semua akan mafhum sebagaimana karismatiknya nama Sukarno disejagat mata perempuan nusantara. Nama satu ini seakan seperti ikonisitas maskulin, representasi ideal sebagaimana harusnya lelaki. Dibalik semua itu, memoar yang terkandung dalam Sarinah adalah perwujudan Feminisme sejati dari seorang lelaki yang menempatkan derajat perempuan tidak linear sebagaimana mayoritas patriarki ditengah dogma dan konservatifisme budaya. Nama Sarinah adalah nyawa bagi perjuangan Sukarno.

Indonesia menggugat


Buku pledoi ini sudah menjadi mitos, banyak mungkin akademisi dan peminat sejarah Indonesia sekalipun yang hanya membaca ulasan-dari-ulasan, hal ini sangat bisa kita maklumi mengingat paska tragedi politik 1965 de-Sukarnoisasi sampai keakar-akarnya adalah agenda laten pemerintah yang mengkudeta negara baru merdeka. Pusat informasi hanya dikendalikan dibawah satu komando. Tak diijinkan terbit selain dapat titah bapak. 

Indonesia Menggugat adalah bagaimana tercapainya praksis dan sikap ideologi dihadapan ongokan usang mahkamah kolonial. Sukarno, seperti membunuh tanpa setetes pun darah membuncah. Menjinakkan tanpa parang terhunus. Dan membalikan terma paradigma sebuah konstitusi dalam koloni-yang-kian-memerdekakan-diri. Kita diseret ke nuansa ketika Bandung menjadi titik-api pergolakan sejarah di peta Indonesia.

Kisah cinta Inggit-Sukarno


Takkan terperikan betapa luasnya hati sang kekasih yang harus merelakan sang dambaan pergi dan berjuang 'di jalan pilihan lain' ketika kata 'kita' pun bukanlah pilihan diantara segitiga-hati. Kalaulah saya boleh kategorikan ini adalah realisme roman sejarah yang dapat menyentuh siapa saja yang telah menyelami uraian tuturan sang empunya lelakon. Dengan gaya sudut pandang cerita kemanusiaan biasa dari individu yang dikemudian hari menjadi poros sejarah nusantara. 

Disini kita akan membaca babak perjuangan antara buku, pesta, cinta, dan gemuruh revolusi-mendebu Sukarno muda dengan Inggit Garnasih yang dikenal sebagai mojang-bersinar dizamannya. Sangat subtil, menusuk relung-relung rasio-hati dan literatur pencerah tentang peranan kebesaran jiwa kaum wanita Indonesia. Sukarno tak bisa melawan kodrati takdir alam, begitu juga Inggit yang sampai akhir nyawa tak jua dapat menjawab nasib yang diberikan alam. Sukarno-Inggit saling mencinta namun pilihan tetap pada maqamnya.

Dengan usia yang terpaut belasan tahun, pada awalnya Sang Putra Fajar berdalih membutuhkan generasi penerus dari darah dan ideologinya langsung. Ini pilihan rasional yang ditawarkan kepada Inggit. Wanita mana yang sanggup untuk berbagi kasih dengan orang yang dibangun, dan dicintainya sedari titik nol pemuda resah hingga menjadi Singa Asia dan sanggup mengetarkan kekuatan-kekuatan Adi Kuasa beserta sekutu. Dalam sejarah politik dunia nama sukarno adalah perlawanan tanpa tedeng-aling-aling terhadap penghisapan manusia oleh manusia.

Di era perang dunia dan perang dingin inilah Inggit sanggup memberi roh dari pemuda itu menjadi charming gentlemen. Dan ini menjadi simalakama terhadap jalan pasangan tersebut. Dengan kharisma dan intelektualitasnya Sukarno tak ayal adalah idaman kaum hawa. Dengan ketegaran, Inggit sanggup melawan dominasi poligami-patriarki ditengah situasi dan kondisi budaya masyarakat waktu itu yang konformistis terhadap hal sensitif seperti ini. Tak ada pilihan absolut lainnya meski Sukarno bertekuk untuk meminta izin dan tetap menjadikannya Ibu Negara Utama. Namun, bukan itu yang Inggit kehendaki meski alasan Sukarno sangat rasional ditengah gempuran revolusi dan gejolak kebudayaan.

Akhir cerita yang getir antara Sukarno-Inggit yang tak terperikan setelah puluhan tahun bersama melewati badai revolusi dan berpisah digerbang kemerdekaan, sesuatu yang keduanya perjuangkan hingga akhir hayat.
Banyak yang dapat saya petik dari buku, pesta, dan cinta, diantara riuh-rendah bahtera cerita Sukarno-Inggit.
 
"Pami aya waktos ngabukbak titimangsa mangkukna yen ditangtayungan widi Pangeran kanggo salawasna paduaan dina bahtera tur dipasihan berkah bibit kahirupan tangtos jalan carita hurip janten benten."

Mencapai Indonesia merdeka, tanpa akhir!


Dari seluruh Presiden Republik ini, mungkin hanya nama Sukarno yang terbilang gemilang mencatatkan namanya dalam sejarah babad civitas akademik dengan seluruh kontribusi nyatanya bagi kesatuan republik, maupun bagi pergerakan anti-imperialisme di Asia-Afrika, hingga membangkitkan kesadaran dunia. Namun dibalik jumawanya nama beliau, lelaku tetaplah sederhana juga membumi, tak ada kehendak yang lebih besar melebihi kodrati alam dan kehendak semesta. Dengan segala kontroversinya pula, nama Sukarno adalah jaminan teladan sebuah kata kerja : perlawanan tanpa akhir!

Mencoba mengingat museum

Antrean pengunjung di luar Rijksmuseum, Amsterdam. (Foto : fel-travelz.com)

Entah kapan terakhir kali saya berkunjung ke tempat bernama museum. Dulu pas jaman sekolahan, bagi saya, nama tempat satu ini adalah sinonim dengan orang-orang yang melek dan gandrung dengan ilmu pengetahuan. Berkunjung harus rapih dan penuh ketertiban. Dimana hal-hal seperti ini bertolak belakang dengan karakter saya waktu itu. Hari-hari sekolah adalah hari dimana saya bisa berbincang dengan sebaya tentang apa yang menarik. Jauh dari hal akademik. Sedangkan untuk urusan obrolan perihal museum, mungkin hanya dalam hitungan jari hal ini menjadi topik pembicaraan. Itu pun jikalau ada tugas yang berkenaan dengan museum, kesejarahan, dan topik yang relevan. 

Yah, jadinya terpaksa memang. Kita mempelajari ilmu A karena A begini dan begitu. Kesadaran anak usia sekolah itu kayak rollercoaster, kadang jumpalitan, belum stabil memilih raqam mana yang pas untuk membedakan serta menyerap pelajaran dan bersuka ria. Meski keluarga kami sederhana, ibu saya pengajar, dan sebagian adiknya 'melek' hal seperti ini diantara lingkungan dimana kami bertempat tinggal tapi pada usia-usia sekolah tersebut kesadaran saya masih juga belum tergugah. Saya hanya tertarik dengan mata pelajaran tertentu. Seperti bahasa, sejarah, dan ilmu humaniora umumnya. Hasil ujian pun standar saja, bahkan sering dibilang jongkok sama ayah saya karena dianggap tak pernah fokus belajar. 

Nah, keadaaan berbanding terbalik dengan tahun terakhir saya akan meninggalkan sekolah. Meski dengan pola belajar yang random pun alakdarnya, sks, sistem-geber-semalam dan lebih tertarik menghabiskan waktu membicarakan skor pertandingan Michael Jordan, menggunjing Chicago Bulls ketika meminang Rodman ketimbang fokus pada materi ujian, saya berusaha mengimbangi konsentrasi belajar dan mengakhiri tahun terakhir itu dengan ngos-ngosan namun titik balik paling menyenangkan. Di nilai akhir raport tahun terakhir tersebut menunjukan peningkatan yang tak dikira-kira sebelumnya oleh siapapun, layaknya kuda hitam underdog yang tak pernah dilirik apalagi diharapkan untuk berada dijejeran sepuluh besar, dan senyatanya hanya layak menjadi kandidat juara di kategori jejeran hura-hura aliran bontot. 

Dalam skala raport tersebut, dibeberapa pelajaran saya mengalahkan pemenang kelas sebelumnya. Ditahun akhir itu saya dengan lega dapat tersenyum jumawa. Sementara para juara kelas masih tak dapat mempercayai pencapaian itu semua. Termasuk teman sebangku dan rival sekelas, plus, Bu Sarah mungkin yah [makasih Bu Sarah, wali kelas saya di SMU yang baik hati. Semoga semesta memberkati Ibu dan keluarga dimana pun].  

Disini saya meresapi sebuah falsafati. Resepnya adalah bahwasanya yang saya lakukan adalah bukan saja menambah kualitas fokus belajar personal semata akan tetapi yang saya coba ubah adalah mentalitas dan kepribadian untuk berani bersikap, memilih, dan memutuskan sebuah hal atas dasar tanggungjawab pribadi. Ini adalah saat-saat saya belajar memahami untuk berubah. Berdikari diatas pemikiran sendiri. Seburuk apapun. Perpustakaan jarang dibelai, museum pada zaman itu adalah sesosok angker dengan status budaya tinggi bagi anak sekolah yang besar dilingkungan dekat pasar, antara tengah kota dan menjorok ke wilayah timur Bandung. Saya tersadar bahwa tahun-tahun masuk sekolah adalah identifikasi dari anak menuju fase dewasa pertama. Labil dan belum terbentuk sebuah pribadi serta sikap mapan. Tapi sebuah keputusan diakhir masa sekolah tersebut merubah segalanya. Atas keberanian bersikap ini saya diganjar undangan beasiswa untuk masuk ragam perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat. Undangan tersebut hampir sekardus mie instan isi penuh. 

Ironisnya, tak ada satupun dari tumpukan undangan tersebut yang saya ambil! 

Malah, awalnya pilihan masuk pada jurusan linguistik di perguruan tinggi swasta di Bandung, karena saya suka dengan ragam bahasa, seperti inggris waktu itu. Akan tetapi pilihan saya adalah justru berubah ke kajian humaniora lainnya, saya memilih komunikasi sebagai pilihan. Pikir saya adalah bahwa linguistik bisa saya dapatkan dimata kuliah atau organisasi intra kampus sebagai pelengkap. Saya berharap dapat mengimbangi gairah dan perubahan saya disini. 

Disinilah saya memulai faset baru untuk belajar bersahabat dengan perpustakaan atau museum. Ada perasaan aneh. Untuk apa orang menghabiskan waktu dalam ruangan besar sunyi dan penuh jejal dengan ragam buku tua yang menurut saya membosankan. Media baru seperti internet adalah barang baru pengalihan rasa kebosanan dari kegiatan untuk bersahabat dengan aura perpustakaan, atau museum. Saya belajar berkompromi. Dari jelajah tiap lantai perpus saya lantas lari mencari komparasi yang ada dalam ruang maya seperti internet. Pada zaman itu mirc adalah salah satu media tergaul macam media sosial populer masa kini dimana tiap individu dapat berbincang dengan siapapun, dimanapun. Bisa anonim. Bisa real ID. Rasa penasaran yang menenggelamkan saya untuk dapat berubah dan belajar. Selaras dengan tekad saya untuk belajar. 

Tak tak terasa masa pencarian tersebut adalah masa penemuan yang sesungguhnya. Setelah belajar dikelas, forum, organisasi, sampai mendekati penjaga warung internet rental jam-jam-an untuk sekedar diskon beberapa ribu dan berbagi kenalan. Tidur pagi, bangun pagi. Keluar pagi balik lagi dini hari. Sekitar jam 1-2 pagi. Orang tua saya pernah berkelakar ketika ada suatu ketika saya pulang ke rumah persis jam sore hari ketika rutinitas orang-orang pulang dari kantornya. Antara kaget dan haru melihat anaknya pada saat mentari mulai melambai merambat petang. Hiks. "TUmben pulang jam segini, masih lama perasaan jam 2 pagi, tuh." Kira-kira sindiran orang tua saya seperti itu. 

Setelah terlempar bersama proses. Saya tersadar kini bahwa peranan perpustakaan dan museum adalah krusial, malah memiliki fungsi vital sebagai penyangga peradaban sebuah bangsa. Dari tempat seperti inilah saya pun dapat memahami mengapa orang yang dulu saya hinakan sebagai orang dengan pekerjaan yang tak ada guna nan membosankan adalah manusia pembelajar yang mencoba berdikari melihat cakrawala diatas kabut pengetahuan untuk belajar memperbaiki kualitas diri hingga akhirnya membenahi lingkungan. Malah dari pengalaman menyelami dunia sunyi bersama buku saya pun tenggelam dalam euforia untuk berproses dalam wadah sebuah komunitas yang berkaitan dengan dunia buku tersebut. Saya menjalani proses membentuk dua toko buku, media, komunitas, organisasi, dan proses berkegiatan lainnya bersama sahabat saya waktu itu dengan rona rindu-dendam tersendiri yang mewarnai.   

Ekstase itu masih menyalak seperti bara sekam kini. 

Penyingkat kata, saya percaya bahwa masyarakat Indonesia adalah kuda hitam di kancah candradimuka peradaban masyarakat dunia. Manusia Indonesia masa depan adalah mereka yang mencintai pengetahuan, menghargai energi yang dihasilkan dari lokus seperti museum, perpustakaan, dan lembaga universitas kehidupan umumnya. Manusia seperti Soejatmoko telah membuktikannya. Dan nicaya akan ortodoksi, dogma, serta konservatifisme adalah hal yang dapat secara arif dicari panaseanya. Habibie meyakini ini. 

Dari barat kita hanya mengampu rasionalitas struktural, dan dari timur kita menyelam bersama kebajikan leluhur mengajarkan esensi semesta dari batiniah terdalam. 

Ijtihad ini pun masih saya selami sebagai pembelajar. Untuk seumur hidup.

Plagiasi, inferioritas dan eksistensi



Saya selalu resah bahkan gerah setiap kali kreasi penciptaan karya individu atau kolektif dicontek mentah-mentah. Bagi seorang penulis misalnya, untuk menghasilkan satu baris kalimat dengan identitas dan karakter personal adalah proses sublim yang panjang setelah mendedah bentangan ragam-rangka pemikiran. 

Yang mengandrungi sastra tak mungkin sekontong-konyong menulis frase-frase konyol ahistoris. Tak juga mesti menguasai garis diakronika dan sinkronika waktu perkembangan secara tok dan mendetil tentang sejarah tersebut. 

Plagiasi atau maling berkedok nuansa akademis layaknya mendapat bogem mentah seperti maling tong sampah warna kuning subsidi pemerintah di jaman Orba yang takkan didapatkan warga kota masa kini ketika kepergok mengasak pagar rumah besi permanen dan tong satu RW dirumah orang tua saya. 

Itu pertengahan 90-an ketika Harmoko masih bercokol menjadi abdi setia penguasa sebelum didesak blok reformis untuk menjadi pragmatis. Kini, memang tak perlu darah dan urat saraf mengencang. Norma sosial adalah panoptikon yang paling ampuh untuk melumpuhkan tubuh sekalipun dan alam bawah sadar tertunduk tak berdaya dibuatnya. 

Entah apakah fatwa yuridis vonis koruptor mampu membuat efek jera dan sanggup menyitir alam sadar komunal untuk mawas diri terhadap ketidakbaikan, keburukan. Di era revolusi samapi paska reformasi, ini adalah praktik utopia.  

Pranata norma sosial, lembaga, bahkan pranata keyakinan belum mampu membunuh bahkan melumpuhkan etos-etos picik semacam plagiasi intelektual dalam bidang apapun, dunia sastra, seni dan budaya, korupsi jabatan dan kejahatan perdata kerah putih, dan praktik banal nurani lainnya ketika pemenggalan sesuatu yang bukan sepatutnya menjadi hak dikalim secara serampangan.  

Saya melihat mereka sudah jauh hari bahkan ketika mereka sendiri belum sadar tentang siapa mereka sebenarnya dalam tatar yang mereka geluti. Ada rasa simpatik dengan perjuangan dan konsistensi selama ini. Tapi sayang saya harus mendakwa mereka PLAGIAT ketika frasa hidup yang dicipta seorang Rendra bersemayam dalam bait-bait kata di album terbaru itu. 

Dan lebih memalukannya tak ada sedikit pun koma atau titik yang berubah. Tak ada saru - sadur itu. Mereka seolah lupa dan kadung silau mendewakan nama yang besar dalam skena musik bising tersebut dan khilaf tentang makna esensi bait-bait yang mereka curi. 

Ketololan ini berbanding terbalik dengan musisi kawakan seperti Yockie Suryo Prayogo yang masih bernas diusianya yang makin matang. Jauh dari unsur negatif yang saya utarakan diatas.

Katakan saja ini menafsir semanasuka



Foto Rodin oleh Wikimedia

Wilayah tafsir memang sangat subjektif. Tapi dalam ranah penelitian subjetifitas yang dimaksud tidak dalam pergertian simplistis seperti ini. Yang dimaksud dalam subjektifitas dalam ranah ini adalah bagaimana seorang peneliti dengan subjek dan variabel objek penelitian memandang sebuah fenomena sosial adalah hal yang perlu mendapat sebuah kajian yang dilakukan secara sistematis berdasarkan metodologi penelitian dan pisau bedah untuk membelah wacana secara spesifik. 

Wilayah tafsir dalam ilmu sosial mencakup ranah yang luas. Bisa tafsir tentang teks, tentang bunyi, tentang visual. Bahkan ranah metafisik yang tak terlihat namun dapat dirasakan eksistensinya. Di ranah tersebut, masing-masing mempunyai lokus tersendiri dengan alat dan metodologi yang satu sama lain dapat bersebrangan dan kontradiktif, atau sebaliknya dapat saling melengkapi. Kajian tafsir seperti ilmu sosial dalam studi komunikasi, politik, seni dan budaya, bahkan agama mempunyai definisi dan domain tersendiri yang menarik untuk diselami dan dipraktikan dalam mengamati fenomena sosial yang terjadi dalam keseharian.  

Kajian tafsir dalam ilmu agama, ilmu sosial, ilmu politik, dan lainnya yang terbentang luas dan membutuhkan proses panjang untuk belajar serta memahami tersebut tak semuanya dapat ditempatkan pada porsinya secara objektif. Ada kontekstualisasi yang mempengaruhi medan tafsir. Sebuah karya seni misalnya. Secara definitif tafsiran awal untuk mengapresiasi produk karya seni apapun adalah belajar memahami makna luar atau pun secara mendalam pesan sang kreator. 

Dengan pergumulan apalagi interaksi langsung dengan sebuah pengarang akan memberikan sudut pandang orang pertama dari seniman, dan sudut pandang kedua dari pengapresiasi karya seni. Dari interaksi antara komunikator atau seniman dengan medium sebuah karya seni kepada apresiator pesan kita minimal mendapat dua wilayah tafsir. Apabila ditautkan pada domain publik yang lebih luas maka wilayah tafsir definitif pertama dan kedua tersebut akan menghasilkan perkalian tafsir lainnya. Dan wilayah tafsir ini turut dipengaruhi oleh wilayah seperti politik, strata ekonomi, pendidikan, geografik, serta lainnya.  

Menafsir versi para apresiator dengan kreator sedikitnya akan mempunyai benang merah. Begitu juga makna tafsir dari seorang edukator atau kurator yang berada dalam dunia seni. Sedikitnya akan mempunyai kesamaan seperti halnya dengan para peneliti kajian sosial dengan konsentrasi pada wilayah pemaknaan gejala-gejala budaya pada domain estetika tersebut. Akan tetapi disiplin menafsir wilayah ini akan sangat berbeda sekali ketika konteks politik memberi magnet tertentu dalam wacana tersebut. Sistematika dan kaidah disiplin menjabarkan sebuah fenomena sosial dalam karya seni adalah bagaimana mereka membaca sesuai dengan kerangka subjektifitas yang biasanya berjarak dengan kaidah iklim ilmiah yang mereduksi semaksimal mungkin vested interest sesuai dengan teks kekuasaan.

Enny Arrow : mengedor-gedor endorfin dan mengocok gairah bak roallercoaster.

Foto : blog budaya pop.

Enny Arrow! Ya, bagi Anda yang suka membaca dan menikmati kultur literasi pasti mengenal satu nama ini. Di skena literasi namanya di cap sebagai novel haram jadah karena isinya merangsang pembaca untuk menjadi prokreator-aktif. Narasi dituturkan dengan menggunakan gaya bahasa keseharian. Plot umumnya menceritakan kisah percintaan yang mendayu dengan akhir ataupun badan cerita yang berbumbu perselingkuhan serta percintaan nan pedas. Ya, sangat panas. 

Sebagai bumbu penyedap Anda akan disuguhkan satu-dua lembar seronok hitam-putih yang secara ekplisit mengabadikan visual kuda-kudaan insan berlawanan jenis. Setelah melewati halaman demikian biasanya pembaca akan terjerembab dan tak mau melanjutkan kegiatan membaca. Bisa ditebak, tangan yang semula konsen-perlahan membuka per halaman, kini akan dengan rusuh gerasakan mencari sensasi serupa dari visualisasi berahi yang menohok. Mengolok-olok iman. 

Tak ada bahasa sastrawi tinggi nan bersayap untuk mengambarkan sebuah kisah. Hiperbola ditautkan guna memancing imaji berahi pembaca semakin membuncah. Terlalu jomplang apabila kita menyandingkannya dengan Siti Nurbaya - Marah Rusli yang menggunakan bahasa sastra, dengan plot khas angkatan 45 yang romantis dan tema yang biasanya berisi konflik budaya, politik, dan sarat pesan moral. Ada nilai lebih ketika sidang pembaca selesai menamatkan halaman terakhir seperti buah karya buyut Harry Rusli, seniman Indonesia yang di cap bengal kerena teguh akan pendiriannya dalam berkarya dan menyuarakan hak-hak kaum marjinal.   

Enny, tak bisa sembarangan kita dapatkan di toko buku terkemuka, hal ini mengingat konten yang menjadi daya jual stensilan seperti Ennie dapat menyesatkan sidang pembaca dalam pegumulan berahi. Dicetak dengan kertas bubur yang buram, Ennie, pada dekade 1980 s/d 90-an biasanya dijual secara bawah tanah di lapak-lapak pinggiran. Kehadiran varian karya tulis seperti ini seakan mengambarkan fenomena seks yang dianggap mayoritas sebagai hal tabu namun disisi lain tetap menjadi konsumsi-aktif publik dan pecintanya sendiri.  

Jikalau era 90-an tersebut penonton sinema lokal mengenal nama Eva Arnaz, Kiki Fatmala, atau Nurul Arifin. Nah, bagi kutu buku Ennie Arrow adalah bacaan favorit tersendiri. Baik hanya sebagai pelepas penat setelah menjejal teks formal akademik, ataupun sebagai penikmat adiktif teks-teks pinggiran yang seronok. Semakin dibaca, semakin dahsyat pompa adrenalin mengedor-gedor endorfin serta mengocok gairah bak roallercoaster.  

Hingga menjelang ajal dipintu kedatangan media baru seperti internet, identitas tokoh sang empu perangkai kata Enny Arrow masih menjadi legenda urban dan tetap menjadi sosok anonim misterius [info pengarang di Goodreads mengaitkan Enny Arrow pada sebuah nama Enny Sukaesih Probowidagdo]. Epigonnya silih datang berganti. Almarhum tujuhbelastahun berbasis dot com  misalnya yang harus tewas dirazia polisi siber bersama bandar-bandar togel dalam ragam pranala laman jagat maya. 

Jelasnya, novel penoda moral berseri seperti Enny Arrow ini tak layak disenderkan pada rak buku kesayangan Anda dan bersanding dengan yang lainnya. Bukannya mengapa, bijimane jikalo tetangga ente ternyata laskar nasbung 2D bersilaturahmi bersama handai taulan ke tempat ente, cuk? Nah. Berabe deh. Ente bakalan difatwah harom sambil kena fentungan. Faham ente, onta?! Simfan rafat-rafat dibawah lemari! Hahaha. 

Tautan karya Enny Arrow 

Sudahlah tak usah membajak! Hentikan


Pembajakan dan mengklaim sesuatu yang bukan menjadi karya perseorangan atau kelompok oleh yang lainnya bukan hal yang baru dalam dunia media atau bahkan seni dan akademis. Di ranah media kerap kali saya menemukan karya fotografi yang dicaplok media tertentu demi keberimbangan karya jurnalistik perusahaannya. Sayangnya pula tak ada kredit bagi si empunya karya sesungguhnya. Bagi mereka ini apresiasi sebuah karya tentu bukan hanya perihal kerugian materil [biaya dan waktu yang dihabiskan] akan tetapi lebih dari itu adalah karya intelektual dalam membuat karya tersebut yang menjadi esensi dari sebuah produk, jurnalistik atau produk niaga sekalipun.  

Nah, sayangnya dari kasus yang sudah-sudah media seakan lupa, dalam hal ini berarti editor atau persona yang diberi tanggungjawab untuk mengelola berita lapangan dan disiarkan kemudian. Kenapa saya katakan demikian, pertama, karena media mempunyai sistem yang bekerja tersendiri dalam mewartakan sebuah peristiwa. Setelah dari wartawan di lapangan, kemudian ada korlap, dan desk editor hingga kemudian produser yang bertanggungjawab terhadap tema acara atau liputan tertentu. Seorang prajurit tak mungkin menjalankan komando sendirian, bukan? Begitupun seorang komandan yang baik tak akan membiarkan prajurit di lapangan yang merupakan aset sistem secara general memutuskan rantai komunikasi dan berjalan sendirian. 

Jikalau salah satu tidak bekerja prima atau menyelewengkan akurasi hasil liputan jurnalistik maka jangan heran di era keterbukaan sekarang publik-aktif media akan bereaksi. Semisal surat terbuka di Kompasiana ini. Sebagai salah satu kanal produk jurnalisme warga hal positif seperti ini sangat berguna demi mengontrol kinerja media untuk lebih profesional meningkatkan kualitas. Surat terbuka di laman sosial media bak hak jawab. Dan yang jelas sebelum jauh hari kedepan berpidana-perdata ria alahkah arifnya pihak yang bersangkutan urun rembug menuju solusi. 

Oh well, selamat pagi. Salam olahraga!