Minggu, 22 September 2013

Is it a treat? The social media


Illustration by The Drum.
Social Media should be obligates its members to registering their real ID's to prevents retarded-massive-trolls whose cowardly hid behind anonymity plus educating popular media consumers like thus to having demeanour-responsibly about wordings in public domains as such internet.

Read also THIS.

Jumat, 20 September 2013

Benahi keluargamu, hidupkan lingkunganmu. Tolak intoleransi!

Ilustrasi. Dok., Asia Bussiness Info.
Pembelajaran dan aplikasi toleransi sepatutnya dibiasakan dalam keseharian. Dalam sebuah pranata sosial, tentu keluarga inti mempunyai peranan yang krusial dan tak kalah urgensinya dalam menjalankan peran sebagai individu sosial di masyarakat, bangsa, dan negara. 

Sebagai garda terdepan dan pertama, keluarga layaknya sebuah pancaran cahaya yang akan membentuk sebuah lilin. Analogi dalam hal ini adalah membentuk sebuah sikap, integritas, dan kepribadian individu dalam memandang dan mendefinisikan dunianya. 

Selanjutnya peranan lingkungan dalam sebuah masyarakat sebagai salah satu identitas sosial menjadi significant other yang mempunyai peran dalam pembentukan sebuah sikap individu maupun kolektif.  

Benahi keluargamu, hidupkan lingkunganmu. Tolak intoleransi! 

Artikel terkait : INI.

Kamis, 19 September 2013

Towards civilized age



The world knows if interfering with gassing and bombings aren't the solutions in the midst conflict area as such in Syria todays. I'm on the line with things that Iara Lee: Activist & Filmmaker & Cultures of Resistance suggests, "In the end, accidental diplomacy is better than no diplomacy at all. So we must continue to put pressure on our elected officials to move in this direction and to use negotiations over chemical weapons as an opportunity to bring all the major stakeholders into further diplomacy that could end the civil war in Syria." Everyone needs peaceful world as well as Syrian todays rightly deserve. End the VIOLENCE! 

PS: 
For those whose has keen interest to hosting films screening and discussion of "The Suffering Grasses" work of Iara Lee & Cultures of Resistance, kindly send your emails through bandung[at] openshow.org , or text us at +628122480773 & +628112260301. Regards.

Green Hilton Memorial Building Geneva Agreement, fakta atau mitos?


Beberapa tahun terakhir kabar tentang Green Hilton Memorial Building Geneva selalu menyeruak dalam ragam blog maupun laman direktori sejarah. Ia seakan telah menjadi mitos. Penuh sas-sus laten dengan bumbu teori konspirasi. Trik dan intrik. Politik, ekonomi, dan kekuasaan. 

Tak ada kepastian karena ia seakan terbentuk dari imagi yang bermutasi menjadi kenyataan itu sendiri. Sebuah kebohongan yang menjadi wahyu ketika mengalami redudansi dan repetisi. Lahir dari irrasionalitas dan menjelma menjadi kanon kebenaran. 

Meski sederet fakta [sekunder, seperti salinan dokumen perjanjian] dihadirkan tak juga dapat mengungkap selubung tabir realita. Kini, ia menjadi mitos, perawan-sejarah, dan juga tak lebih dari bumbu sensasi seperti media kuning mendedah teori selangkangan, a-to-z. 

Dokumen terkait oleh blog Lintas Gaul :










Rabu, 18 September 2013

Akar Dalang dan 1965

Kulit muka buku Akar Dalang. Dok., Chirpstory.
Salah satu ringkasan twit yang menurut saya cukup dapat memetakan apa yang terjadi pada dawarsa perang dingin ke era kudeta merangkak 1965. Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sejarah adalah nyawa tersendiri yang memberi oksigen ditengah narasi sejarah yang hanya bermuara di pihak pemenang. Yang makin lama makin pengap dan membutuhkan suntikan udara tandingan diantara kompromi intelektual yang bersinergi mengelapkan teks narasi sejarah kemanusiaan di Indonesia bersama despot dan sokongan adikuasa. 

Penelitian dan karya ilmiah lainnya mulai bermunculan memberi rona reflektif tentang apa yang terjadi sesungguhnya di republik ini. Catatan Cornell, rilisan Equinox, dan lainnya seperti Ultimus ini perlahan memberi jawaban keresahan masyarakat Indonesia mengenai sejarah bangsanya sendiri. Apa yang akan terjadi di 2065? Semoga generasi republik ini semakin bernas menelisik gerilya leluhur ketika mendirikan sebuah nasion yang berdikari diatas landasan riil kemanusian. Dan menjadi manusia sesungguhnya. 

Meski demikian siapapun mesti mawas dengan kekuatan-kekuatan yang tetap tidak akan rela menerima kenyataan bahwa negara ini adalah bangsa kaya budaya dan alamnya dan dapat berdiri setara dengan bangsa manapun.  


Selasa, 17 September 2013

Bolehlah mobil nasional massal untuk masyarakat, tapi....

Salah satu iklan Mobil Nasional Timor. Dok., Blog Parkiran Timur.
Apa kabar proyek mobil nasional? Era 90 akhir ada proyek Timor sebagai salah satu garda pendobrak ketimpangan konsumsi dan produksi transportasi. Selain meningkatkan produktifitas pembangunan infrastruktur dan SDM di bidang ini juga bagus demi laju pendapatan ekonomi bangsa. Dari hulu ke hilir bahu-membahu memberdayakan kemandirian. Ini idea awal yang saya serap dari program tersebut. 

Dapat dibayangkan apabila proyek yang menyangkut kepentingan publik ini dapat dikerjakan dengan mulus tanpa ada KKN dan hanya kepentingan rakyat sebagai panglima. Mungkin republik ini mempunyai 'mobil rakyat' guna memobilisasi pembangunan. Sayang seribu sayang, proyek tersebut terhenti paska Mei 1998. Pun, tak ada kelanjutan seperti industri dirgantara yang dipelopori Habibie dengan PT. DI. Atau lainnya. 

Adanya program mobil murah untuk masyarakat ini juga harus mendapat kajian lebih. Demografik, terutama wilayah persebaran pengguna produk transportasi seperti ini. Bagi di kota yang padat mobilitas tentu harus ada upaya yang bersahabat yang dapat menjamin hak berkendara masyarakat. Solusi prioritas bagi kota-kota seperti ini adalah efisiensi dan pemgembangan juga perawatan berkelanjutan transportasi publik. Ini salah satu hal yang krusial.  

Salah satu alasan bagi kebanyakan konsumen kepemilikan kendaraaan bermotor adalah guna menekan biaya transportasi sehari-hari. Apabila satu liter bahan bakar bensin bersubsidi pun bisa menunjang mobilitas dan produktifitas ketimbang menggunakan moda transportasi massal tentunya masyarakat akan lebih tergiur memilih moda kendaraan pribadi. Selain alasan prestise simbolis berupa kepemilikan sesuatu yang bersifat dunia semata. Sebagian masyarakat juga sangat kritis ketika memilih moda mana yang pas untuk mobilitas mereka apabila menyangkut efisiensi waktu. 

Kebijakan ganjil-genap mungkin akan menjadi panasea sementara seiring tingkat konsumsi dan produktifitas masyarakat yang secara logika sangat memungkinkan untuk lebih sejahtera ketimbang waktu-waktu sebelumnya.  

Adakah solusi yang lain? 

Solusinya sederhana saja (meski dalam praktiknya tidak sesederhana ini), berikan masyarakat transportasi publik secara gratis dan pelayanan maksimal menggunakan moda seperti ini. Dengan demikian semua lapisan strata masyarakat tanpa terkecuali dapat merasakan keleluasaan beraktifitas. 

Bagi program mobil murah adalah mengatur pula pola distribusi produksi kendaraan bermotor ke seluruh penjuru wilayah Indonesia. Sehingga pola konsentrasi tidak hanya di kota besar semata [baca : Pulau Jawa]. 

Pola pembangunan infrastruktur yang mendukung mobilitas masyarakat seperti jalan, ruang pedestrian, ruang publik, ruang sosial-budaya lainnya juga harus diperhatikan diwilayah-wilayah penyangga kota. Dari pinggiran ke tingkat kabupaten bahkan ditingkat RW pun harus menjadi agenda bersama.   

Masalah lainnya adalah dari mana saja sudut pandang ini harus diambil? Ada dua aktor besar dalam regulasi berkendara. Katakanlah produsen sebagai stakeholder utama yang notabene masih menggunakan merek luar dan masih mengimpor, dan kedua tentunya konsumen dalam hal ini pengguna kendaraan pribadi dan masyarakat kebanyakan yang menggunakan moda transportasi umum. 

Sudut pandang di aktor kedua sudah disebut sekilas. Tambahan lain untuk aktor pertama alias produsen industri kendaraan bermotor ini adalah privatisasi-positif sektor vital bagi hak orang banyak. Tak kan selamanya Indonesia menjadi konsumer pasif. Meski merek cap Asing usahakan aspek sumberdaya hulu-hilir ada di republik. 

Jadi tak usah dilawan, selaraskan saja semuanya. Dialog pemerintah - produsen - masyarakat - industri pengelola jasa transportasi swasta - serta pihak lain yang terkait harus seiring diberi ruang. Jangan semata-mata proyek titipan saja yang diproses dan dilempar ke publik tanpa tanggungjawab moral untuk maintenance berkelanjutan. 

Yang jelas, mobil murah ramah lingkungan dapat menjadi alternatif berkendara selama ada keseimbangan dengan moda lainnya seperti transportasi publik gratis yang berkualitas di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Ini tentu akan menjadi idaman masyarakat, but hey hows our Esemka project? 

Akhir kata, bagi sebagian kalangan mobil murah memang diperlukan tapi dengan syarat kebijakan tersebut harus diteliti dan dikaji. Dan yang menjadi perhatian masyarakat adalah hak mereka untuk mendapat transportasi publik yang nyaman, infrastruktur yang mendukung. Jangan lupa harga kedelai, bawang, dan kebutuhan ekonomi utama yang mesti diperhatikan. Sekian. 


Senin, 16 September 2013

Tahu Gejrot Cirebon, Mang Bewok!

Tahu Gejrot Cirebon. Foto oleh Bisnis Jabar.
Seringkali saya berbincang dengan si Bewok, penjaja kuliner keliling Tahu Gejrot asal wilayah antara Brebes dan Cilacap, kenapa memilih hijrah ke Bandung dan tidak berdikari didesanya saja. Jawabannya klise, sudah bisa ditebak. Ia mau mengadu nasib untuk perbaikan kesejahteraan keluarga seperti mimpi yang dijanjikan kota besar. 

Kemudian saya bertanya kenapa tidak menjadi petani karena biasanya yang sudah asam garam dengan hiruk-pikuk kota dan berasal dari pedesaan akan kembali membangun rumah bahkan menjadi tuan tanah baru dengan lahan garapan untuk menjadi petani. 

Alasannya masih sama, ternyata rezeki yang didapatnya ketika bekerja di Jakarta sebagai kurir ekspedisi dengan kuliner keliling di Bandung hanya cukup untuk keseharian saja. Tak ada rezeki lebih untuk membeli lahan yang kemudian dapat digarap secara berdikari, apalagi membangun rumah. Tak seperti kebanyakan tetangganya yang menjadi TKI atau sudah sukses. [Anda dapat juga membaca INI].

Bewok pun hanya bisa tersenyum ketika melihat tetangga satu kampungnya beramai-ramai membeli kendaraan baru atau pasangan baru hingga saat musim panen tutup semuanya kembali ke habitatuasi awal, mencangkul tanah lebih giat, menjual motor yang baru saja diambil musim panen lalu, atau kembali kepada istri tua yang sabar itu. 

Hatur nuhun cengekna, Mang Bewok!

Minggu, 15 September 2013

AO dan pramunikmat

Arak Orang Tua. Dok., Kaskus.
Dalam sebuah pecakapan, Ki Atang, adik nenek saya di Mampang Perempatan [lahir di tatar Priangan, Sumedang, besar di Bandung, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di Jakarta hingga akhir hayat] memberitahu arti AO, artinya Asal Oyag, asal goyang. Katanya, AO ini juga merujuk dan sinonim ke merek minuman lokal kahot, arak cap Orang Tua yang biasanya menjadi pelengkap jamu gendong si mbok jamu. 

Oh....itu toh muasalnya! 

Saya terkekeh mendengar beliau ketika menjelaskan perilaku anak muda masa yang katanya hanya tenggelam dalam euforia hedonis-negatif. Sedari pertemuan di liburan tersebut saya baru mendengar singkatan ini lagi dalam berita kupu-madu Sukabumi bernama Icha, salah satu karyawan perusahaan di Pabrik yang menyambi menjadi wirastawan-pramunikmat. 

Ilustrasi Pramunikmat. Foto Tribun News Medan.


Bandung kreatif?

Gedung Sate Bandung, foto oleh Wikipedia.
Bandung menyabet sebagai salah satu kota kreatif dunia justru berasal dari kesadaran masyarakat dan kaum mudanya yang gerah dengan stagnansi lingkungan. Saya mengamati ini sebagai wujud partisipasi positif sipil dalam menyukseskan pembangunan dengan cara dan upayanya tersendiri. 

Lokomotif perubahan Bandung juga lahir dari puhuhan bahkan mungkin ratusan komunitas [perihal kuantitas pastinya belum ada riset yang menyeluruh] yang bersinergi dengan kaum menengah kota, khususnya yang mengenyam pendidikan strata lanjutan. 

Masyarakat, kelompok SDM menengah kota, dan sinergitas kantung beragam komunitas ini adalah salah satu esensi perubahan dan identitas versi Bandung. Mana versimu, kawan? Cheers.

Artikel terkait : KLIK INI!