Jumat, 01 November 2013

Plagiasi, inferioritas dan eksistensi



Saya selalu resah bahkan gerah setiap kali kreasi penciptaan karya individu atau kolektif dicontek mentah-mentah. Bagi seorang penulis misalnya, untuk menghasilkan satu baris kalimat dengan identitas dan karakter personal adalah proses sublim yang panjang setelah mendedah bentangan ragam-rangka pemikiran. 

Yang mengandrungi sastra tak mungkin sekontong-konyong menulis frase-frase konyol ahistoris. Tak juga mesti menguasai garis diakronika dan sinkronika waktu perkembangan secara tok dan mendetil tentang sejarah tersebut. 

Plagiasi atau maling berkedok nuansa akademis layaknya mendapat bogem mentah seperti maling tong sampah warna kuning subsidi pemerintah di jaman Orba yang takkan didapatkan warga kota masa kini ketika kepergok mengasak pagar rumah besi permanen dan tong satu RW dirumah orang tua saya. 

Itu pertengahan 90-an ketika Harmoko masih bercokol menjadi abdi setia penguasa sebelum didesak blok reformis untuk menjadi pragmatis. Kini, memang tak perlu darah dan urat saraf mengencang. Norma sosial adalah panoptikon yang paling ampuh untuk melumpuhkan tubuh sekalipun dan alam bawah sadar tertunduk tak berdaya dibuatnya. 

Entah apakah fatwa yuridis vonis koruptor mampu membuat efek jera dan sanggup menyitir alam sadar komunal untuk mawas diri terhadap ketidakbaikan, keburukan. Di era revolusi samapi paska reformasi, ini adalah praktik utopia.  

Pranata norma sosial, lembaga, bahkan pranata keyakinan belum mampu membunuh bahkan melumpuhkan etos-etos picik semacam plagiasi intelektual dalam bidang apapun, dunia sastra, seni dan budaya, korupsi jabatan dan kejahatan perdata kerah putih, dan praktik banal nurani lainnya ketika pemenggalan sesuatu yang bukan sepatutnya menjadi hak dikalim secara serampangan.  

Saya melihat mereka sudah jauh hari bahkan ketika mereka sendiri belum sadar tentang siapa mereka sebenarnya dalam tatar yang mereka geluti. Ada rasa simpatik dengan perjuangan dan konsistensi selama ini. Tapi sayang saya harus mendakwa mereka PLAGIAT ketika frasa hidup yang dicipta seorang Rendra bersemayam dalam bait-bait kata di album terbaru itu. 

Dan lebih memalukannya tak ada sedikit pun koma atau titik yang berubah. Tak ada saru - sadur itu. Mereka seolah lupa dan kadung silau mendewakan nama yang besar dalam skena musik bising tersebut dan khilaf tentang makna esensi bait-bait yang mereka curi. 

Ketololan ini berbanding terbalik dengan musisi kawakan seperti Yockie Suryo Prayogo yang masih bernas diusianya yang makin matang. Jauh dari unsur negatif yang saya utarakan diatas.