Jumat, 01 November 2013

Mencoba mengingat museum

Antrean pengunjung di luar Rijksmuseum, Amsterdam. (Foto : fel-travelz.com)

Entah kapan terakhir kali saya berkunjung ke tempat bernama museum. Dulu pas jaman sekolahan, bagi saya, nama tempat satu ini adalah sinonim dengan orang-orang yang melek dan gandrung dengan ilmu pengetahuan. Berkunjung harus rapih dan penuh ketertiban. Dimana hal-hal seperti ini bertolak belakang dengan karakter saya waktu itu. Hari-hari sekolah adalah hari dimana saya bisa berbincang dengan sebaya tentang apa yang menarik. Jauh dari hal akademik. Sedangkan untuk urusan obrolan perihal museum, mungkin hanya dalam hitungan jari hal ini menjadi topik pembicaraan. Itu pun jikalau ada tugas yang berkenaan dengan museum, kesejarahan, dan topik yang relevan. 

Yah, jadinya terpaksa memang. Kita mempelajari ilmu A karena A begini dan begitu. Kesadaran anak usia sekolah itu kayak rollercoaster, kadang jumpalitan, belum stabil memilih raqam mana yang pas untuk membedakan serta menyerap pelajaran dan bersuka ria. Meski keluarga kami sederhana, ibu saya pengajar, dan sebagian adiknya 'melek' hal seperti ini diantara lingkungan dimana kami bertempat tinggal tapi pada usia-usia sekolah tersebut kesadaran saya masih juga belum tergugah. Saya hanya tertarik dengan mata pelajaran tertentu. Seperti bahasa, sejarah, dan ilmu humaniora umumnya. Hasil ujian pun standar saja, bahkan sering dibilang jongkok sama ayah saya karena dianggap tak pernah fokus belajar. 

Nah, keadaaan berbanding terbalik dengan tahun terakhir saya akan meninggalkan sekolah. Meski dengan pola belajar yang random pun alakdarnya, sks, sistem-geber-semalam dan lebih tertarik menghabiskan waktu membicarakan skor pertandingan Michael Jordan, menggunjing Chicago Bulls ketika meminang Rodman ketimbang fokus pada materi ujian, saya berusaha mengimbangi konsentrasi belajar dan mengakhiri tahun terakhir itu dengan ngos-ngosan namun titik balik paling menyenangkan. Di nilai akhir raport tahun terakhir tersebut menunjukan peningkatan yang tak dikira-kira sebelumnya oleh siapapun, layaknya kuda hitam underdog yang tak pernah dilirik apalagi diharapkan untuk berada dijejeran sepuluh besar, dan senyatanya hanya layak menjadi kandidat juara di kategori jejeran hura-hura aliran bontot. 

Dalam skala raport tersebut, dibeberapa pelajaran saya mengalahkan pemenang kelas sebelumnya. Ditahun akhir itu saya dengan lega dapat tersenyum jumawa. Sementara para juara kelas masih tak dapat mempercayai pencapaian itu semua. Termasuk teman sebangku dan rival sekelas, plus, Bu Sarah mungkin yah [makasih Bu Sarah, wali kelas saya di SMU yang baik hati. Semoga semesta memberkati Ibu dan keluarga dimana pun].  

Disini saya meresapi sebuah falsafati. Resepnya adalah bahwasanya yang saya lakukan adalah bukan saja menambah kualitas fokus belajar personal semata akan tetapi yang saya coba ubah adalah mentalitas dan kepribadian untuk berani bersikap, memilih, dan memutuskan sebuah hal atas dasar tanggungjawab pribadi. Ini adalah saat-saat saya belajar memahami untuk berubah. Berdikari diatas pemikiran sendiri. Seburuk apapun. Perpustakaan jarang dibelai, museum pada zaman itu adalah sesosok angker dengan status budaya tinggi bagi anak sekolah yang besar dilingkungan dekat pasar, antara tengah kota dan menjorok ke wilayah timur Bandung. Saya tersadar bahwa tahun-tahun masuk sekolah adalah identifikasi dari anak menuju fase dewasa pertama. Labil dan belum terbentuk sebuah pribadi serta sikap mapan. Tapi sebuah keputusan diakhir masa sekolah tersebut merubah segalanya. Atas keberanian bersikap ini saya diganjar undangan beasiswa untuk masuk ragam perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat. Undangan tersebut hampir sekardus mie instan isi penuh. 

Ironisnya, tak ada satupun dari tumpukan undangan tersebut yang saya ambil! 

Malah, awalnya pilihan masuk pada jurusan linguistik di perguruan tinggi swasta di Bandung, karena saya suka dengan ragam bahasa, seperti inggris waktu itu. Akan tetapi pilihan saya adalah justru berubah ke kajian humaniora lainnya, saya memilih komunikasi sebagai pilihan. Pikir saya adalah bahwa linguistik bisa saya dapatkan dimata kuliah atau organisasi intra kampus sebagai pelengkap. Saya berharap dapat mengimbangi gairah dan perubahan saya disini. 

Disinilah saya memulai faset baru untuk belajar bersahabat dengan perpustakaan atau museum. Ada perasaan aneh. Untuk apa orang menghabiskan waktu dalam ruangan besar sunyi dan penuh jejal dengan ragam buku tua yang menurut saya membosankan. Media baru seperti internet adalah barang baru pengalihan rasa kebosanan dari kegiatan untuk bersahabat dengan aura perpustakaan, atau museum. Saya belajar berkompromi. Dari jelajah tiap lantai perpus saya lantas lari mencari komparasi yang ada dalam ruang maya seperti internet. Pada zaman itu mirc adalah salah satu media tergaul macam media sosial populer masa kini dimana tiap individu dapat berbincang dengan siapapun, dimanapun. Bisa anonim. Bisa real ID. Rasa penasaran yang menenggelamkan saya untuk dapat berubah dan belajar. Selaras dengan tekad saya untuk belajar. 

Tak tak terasa masa pencarian tersebut adalah masa penemuan yang sesungguhnya. Setelah belajar dikelas, forum, organisasi, sampai mendekati penjaga warung internet rental jam-jam-an untuk sekedar diskon beberapa ribu dan berbagi kenalan. Tidur pagi, bangun pagi. Keluar pagi balik lagi dini hari. Sekitar jam 1-2 pagi. Orang tua saya pernah berkelakar ketika ada suatu ketika saya pulang ke rumah persis jam sore hari ketika rutinitas orang-orang pulang dari kantornya. Antara kaget dan haru melihat anaknya pada saat mentari mulai melambai merambat petang. Hiks. "TUmben pulang jam segini, masih lama perasaan jam 2 pagi, tuh." Kira-kira sindiran orang tua saya seperti itu. 

Setelah terlempar bersama proses. Saya tersadar kini bahwa peranan perpustakaan dan museum adalah krusial, malah memiliki fungsi vital sebagai penyangga peradaban sebuah bangsa. Dari tempat seperti inilah saya pun dapat memahami mengapa orang yang dulu saya hinakan sebagai orang dengan pekerjaan yang tak ada guna nan membosankan adalah manusia pembelajar yang mencoba berdikari melihat cakrawala diatas kabut pengetahuan untuk belajar memperbaiki kualitas diri hingga akhirnya membenahi lingkungan. Malah dari pengalaman menyelami dunia sunyi bersama buku saya pun tenggelam dalam euforia untuk berproses dalam wadah sebuah komunitas yang berkaitan dengan dunia buku tersebut. Saya menjalani proses membentuk dua toko buku, media, komunitas, organisasi, dan proses berkegiatan lainnya bersama sahabat saya waktu itu dengan rona rindu-dendam tersendiri yang mewarnai.   

Ekstase itu masih menyalak seperti bara sekam kini. 

Penyingkat kata, saya percaya bahwa masyarakat Indonesia adalah kuda hitam di kancah candradimuka peradaban masyarakat dunia. Manusia Indonesia masa depan adalah mereka yang mencintai pengetahuan, menghargai energi yang dihasilkan dari lokus seperti museum, perpustakaan, dan lembaga universitas kehidupan umumnya. Manusia seperti Soejatmoko telah membuktikannya. Dan nicaya akan ortodoksi, dogma, serta konservatifisme adalah hal yang dapat secara arif dicari panaseanya. Habibie meyakini ini. 

Dari barat kita hanya mengampu rasionalitas struktural, dan dari timur kita menyelam bersama kebajikan leluhur mengajarkan esensi semesta dari batiniah terdalam. 

Ijtihad ini pun masih saya selami sebagai pembelajar. Untuk seumur hidup.