Rabu, 18 September 2013

Akar Dalang dan 1965

Kulit muka buku Akar Dalang. Dok., Chirpstory.
Salah satu ringkasan twit yang menurut saya cukup dapat memetakan apa yang terjadi pada dawarsa perang dingin ke era kudeta merangkak 1965. Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sejarah adalah nyawa tersendiri yang memberi oksigen ditengah narasi sejarah yang hanya bermuara di pihak pemenang. Yang makin lama makin pengap dan membutuhkan suntikan udara tandingan diantara kompromi intelektual yang bersinergi mengelapkan teks narasi sejarah kemanusiaan di Indonesia bersama despot dan sokongan adikuasa. 

Penelitian dan karya ilmiah lainnya mulai bermunculan memberi rona reflektif tentang apa yang terjadi sesungguhnya di republik ini. Catatan Cornell, rilisan Equinox, dan lainnya seperti Ultimus ini perlahan memberi jawaban keresahan masyarakat Indonesia mengenai sejarah bangsanya sendiri. Apa yang akan terjadi di 2065? Semoga generasi republik ini semakin bernas menelisik gerilya leluhur ketika mendirikan sebuah nasion yang berdikari diatas landasan riil kemanusian. Dan menjadi manusia sesungguhnya. 

Meski demikian siapapun mesti mawas dengan kekuatan-kekuatan yang tetap tidak akan rela menerima kenyataan bahwa negara ini adalah bangsa kaya budaya dan alamnya dan dapat berdiri setara dengan bangsa manapun.