Kamis, 22 Oktober 2009

Merenung tentang arti sejarah

Apa yang terjadi jikalau kita terlahir tanpa menyusui, merangkak, berdiri, jatuh dan bangkit. Apakah kita hanya menjalani satu proses hidup linear sebagai manusia instan atau mempertanyakan muasal dari eksistensi kita. Tentang proses yang mengiringi kita menjadi bagian yang akhirnya dinamakan sejarah.

Orang bijak berkata bahwa kita takkan pernah lepas dari masa lalu. Masa depan dan masa lalu adalah hari ini, dan tugas kita adalah menjalaninya dengan kualitas sebaik mungkin guna menjadi satu manusia utuh jasmani dan ragawi. Lebih lanjut orang bijak itu mengatakan, sungguh hebat apabila seseorang sanggup untuk menghapus jejak masa lalu hingga tak berbekas, dengan perlahan ia akan meruntuhkan basis identitas sosio-kultural yang selama ini telah membentuknya.

Ya, peradaban dan kebudayaan manusia baik sebagai individu atau kolektif terbentuk dari beragam proses sejarah. Dari anasir masa lalu itu kita diidealkan untuk bercermin menjalani kehidupan dengan lebih arif, tidak terperosok ke dalam noktah hitam yang menjadikan kita buta melangkah di masa depan dan menggulangi keceroboham yang sama seperti masa lalu.

Gambaran–gambaran yang telah terjadi di masa silam mengenalkan kita akan berbagai hal. Mulai dari ideologi, pertarungan wacana, hingga perebutan hegemoni di pentas perpolitikan republik yang bernama Indonesia. Apa yang kita dapat dari semua itu, sikap apa yang yang harus kita ambil ketika peristiwa di masa lalu masih merupakan sebuah misteri. Menelan mentah dogma yang disusupkan rezim secara sistemik, atau menelusuri esensi pemasalahannya dan belajar darinya. Mengambil sebuah sikap. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 adalah momok yang masih menghantui nalar setiap jiwa yang resah, senantiasa menanti kepastian akhir cerita.

Apakah kita mampu menghapus tetapak sejarah, jejak yang menorehkan luka. To forgive but not forgotten. Whom?